Showing posts with label Music. Show all posts
Showing posts with label Music. Show all posts

Thursday, September 6, 2012

"Dear, my 2 (most) favourite bands..."


The Trees And The Wild, ESPOSE 2012, Bandung
Sigur Rós, SF Outside Lands 2012

Still can't believe I will see you both at one event. On the same stage.
I think I'm going to cry. Cry in my happiness. (No, I'm not overacting. This is real. You guys just don't understand how much I adore their music.)

It's gonna be a spiritual journey while watching your music LIVE at the same time.

I am so excited! See you on 25th November 2012 at Urbanscapes Festival !



With teary eyed,
Your hardcore admirer.

Wednesday, August 1, 2012

For What It's Worth I Love You.....


The Cardigans Live In Jakarta
14th August 2012 at Tennis Indoor Senayan


"I will never know, cause you will never show
Come on and love me now...
Come on and love me now....."

Lirik di atas langsung mencuat di pikiran saya ketika mendengar berita bahwa The Cardigans akan mengadakan konser mereka di Jakarta, Tennis Indoor Senayan, pada tanggal 14 Agustus 2012. Ujung bibir saya pun tertarik ke atas untuk tersenyum. Lalu otomatis mengumamkan alunan nada dari bagian refrain lagu "Carnival" dari The Cardigans. Badan ikut bergoyang kecil mengikuti gumaman nada dari mulut ini, dan bayangan visualisasi Nina Persson, sang vokalis bersama personil lainnya menari kecil di video klip lagu tersebut.
Selalu begini. Selalu ini yang terjadi setiap saya mendengar ataupun menyanyikan lagu The Cardigans kesukaan saya. Badan dan pikiran rasanya ikut bergoyang menikmati alunan nada dan keindahan lirik yang ada.

Ya, "Carnival" merupakan lagu urutan paling atas untuk playlist "The Cardigans' Music" saya.

Saya lupa persisnya kapan dan darimana pertama kali saya mendengar lagu tersebut. Kalau tidak salah saya mendengar lagu itu menjadi backsound salah satu acara televisi. Sewaktu saya mendengar alunan nada awal saja, saya langsung jatuh cinta. Sejak saat itu saya mencari tahu apa judul lagu tersebut dan siapa saja musisi hebat di belakangnya. Dan mulai mendengarkan satu per satu lagu mereka. Dan akhirnya saya pun jatuh cinta kedua kalinya, kali ini ke dalam pelukan The Cardigans keseluruhan.

Entah apa yang membuat saya bisa jatuh cinta sama mereka. Karena kalau dipikir-pikir saya yang dulu itu hanya mau mendengarkan musik rock beritme keras, cenderung ke musik emo (atau bahkan metal sekaligus?). Pokoknya hanya mau mendengarkan lagu yang terdapat distorsi gitar yang kencang dan gebukan drum yang beruntun di dalamnya.
The Cardigans lah kumpulan musisi pertama yang membuka telinga saya untuk mendengarkan musik lainnya di luar sana. Akhirnya, dari musisi semacam Sixpence None The Richer sampai ke White Shoes And The Couples Company pun sekarang menjadi nama wajib untuk dimasukkan ke music playlist saya.

The Cardigans membawa saya berpetualang untuk mengeksplor jenis-jenis musik lain yang tidak kalah indahnya dengan musik kencang kesukaan saya dulu.

Selain itu, musik dari band ini selalu saja berhasil menenangkan dan memberikan hawa positif di pikiran saya.  Suara lembut khas Nina Persson, alunan gitar dari Peter Svensson, dentuman bass yang terdengar kental dari Magnus Sveningsson, gebukan drum ringan nan menyenangkan ala Bengt Lagerberg dan dentingan keyboard dari Lars-Olof Johansson, kolaborasi dari seluruh suara yang mereka keluarkan menurut saya menjadi suatu harmonisasi yang teduh dan indah sekali. Seringkali saya merasa melayang setiap mendengar lagu mereka.

Rangkaian kata dalam lirik lagu mereka pun senantiasa menemani jalan kehidupan saya. "Carnival" yang seakan otomatis menjadi soundtrack saya jika sedang jatuh cinta, "Lovefool" yang seakan membuat hati miris setiap mendengarnya pada saat sedang dikecewakan oleh seseorang, hingga "Rise and Shine" yang seakan mengajak saya untuk tidak jatuh terpuruk terlalu lama dan bangkit kembali. "Pooh Song" dan "The Road" pun selalu mengingatkan saya akan keberadaan sahabat dan orang terdekat. Rasanya ingin sekali mengajak mereka mereka menari bersama ditemani alunan ceria kedua lagu tersebut :)

Tidak ada habisnya jika saya harus mendeskripsikan pandangan saya terhadap para musisi satu ini.
The Cardigans berhasil membawa dan menemani saya berpetualang dalam kehidupan ini. Loncat dari satu babak ke babak lainnya dengan ceria.
Maka dari itu ingin sekali rasanya saya melihat langsung penampilan mereka. Saya ingin secara langsung memandangi mereka, para personil menyanyi, menari, tersenyum, dan berkarya bersama di atas panggung. Saya ingin sekali merasakan letupan rasa bahagia di hati pada saat bernyanyi bersama dengan mereka. Tidak heran jika ada air mata yang turun di pipi saya pada saat melihat pemandangan yang indah seperti itu di atas panggung.
Karena bagi saya, The Cardigans ialah salah satu pahlawan di kehidupan musikalitas saya.

"For what it's worth I love you..
And what is worse I really do...
Oh what is worse I'm gonna run run run!
'Till the sweetness gets to you
And what is worse I love you!"

Yes. The Cardigans is worth to be loved. They are worth to be watched.
And I'm gonna run into their greatness musical wonder :)

Pic 3
The Cardigans,  
14th November 2003 in Thessaloniki, Greece


***

You can try to get free ticket of The Cardigans' Live In Jakarta by join the contest from "Green Sands & The Cardigans" (Click this link to open the page)

Wednesday, July 25, 2012

My Dream Job Would Be : Music Journalist

Saya baru aja ikutan project dari salah satu blogger Indonesia kesukaan saya, Ka Rahne Putri. Waktu itu di post Tumblr Ka Rahne ini, dia memberitahu bahwa dia dan temannya membuat suatu blog project, yaitu In Parallel Universe. Di sini kita bisa submit tulisan kita mengenai pekerjaan sederhana yang kita impikan tanpa memikirkan imbalan yang kita dapatkan.

Untuk mimpi saya sendiri, saya memilih menjadi Jurnalis Musik.
Kenapa?
Sesederhana karena saya sangat amat mencintai musik. Rasanya, musik itu sudah menjadi 90% bagian dari hidup saya. Mendengarkan musik sudah menjadi kewajiban di sela tiap aktivitas padat saya. Menonton langsung para musisi favorit berekspresi di atas panggung sudah menjadi kebutuhan saya (tentu saja jika didukung oleh keadaan finansial saat itu).
Dan, mengapa harus jurnalis? Karena saya lebih menikmati bekerja di belakang layar, tidak terekspos. Cukup menulis suatu resensi musik, dan melihat ada nama saya tercantum di atas kertas sebagai penulis, itu sudah menjadi kebahagian luar biasa tersendiri.

Sesederhana karena musik membuat saya bebas. Dan saya ingin bekerja untuk sesuatu yang saya cintai.

Berikut tulisan yang tadi saya coba masukkan di Tumblr tersebut.

Di #DuniaParalel, saya ingin menjadi seorang jurnalis musik. Musik yang merupakan hal yang paling saya cintai di dunia ini.
Tetapi saya lebih ingin bekerja di belakang layar musik itu sendiri, tidak perlu menjadi pelakon di atas panggung. 
Meliput sebuah konser musik, mengabadikan ekspresi lepas nan indah para musisi yang terlihat letih namun bebas di atas panggung, lalu membagikan pengalaman tidak terlupakan itu di atas tulisan-tulisan yang akan dibaca oleh dunia luar.
Mewawancara para musisi, mengetahui seluk beluk kehidupan musik mereka, lalu menuliskan kembali perjalanan tersebut untuk dilihat oleh orang banyak.
Menuliskan resensi seorang musisi, album musik dan lain sebagainya, untuk memberi tahukan orang di luar sana keindahan musik yang ada dan sedang terjadi. 
Tidak penting seberapa besar uang yang didapatkan. Bekerja di belakang layar, memberi pengetahuan kepada dunia luar, bisa melakukan apa yang dicinta. Itu sudah sangat lebih dari cukup.

Terus berdoa, dan berusaha.
Semoga saja, suatu saat, ada jalan yang membuat saya dapat meraih mimpi ini.

***

Untuk yang ingin ikut berbagi mimpi, silahkan jelajahi Tempat Ini :)

Monday, July 16, 2012

Silence.



Silence is the new conversation.
This is what I believe in my whole life. People think that the only way to have a connection or conversation with other person is through words. Talk much. So other will hear you.
The fact is, silence is a conversation too.
Have you try to have a silent moment? Listen to the sounds of nature? Pay attention to someone's expression? Have a chit-chat with yourself in your heart?

Sigur Rós' new video 'Rembihnútur' will tell us what is the beautiful of the silence.
Watch it, and feel it.
You will know that the video is trying to deliver something to us only through the moving pictures.

Fyi, I cry every time I watch this video. It feels like I can feel the pain, and desperation of these people in this video.
I cry, even I don't know what Jonsi (the vocalist) sings in this song.
I don't even understand what the lyrics mean.
But I do feel it through the collaboration of pictures and music.


Below explanation is taken from www.promonews.tv.

The fourth video in Sigur Rós’s ongoing Valtari Mystery Film Experiment – the project where various filmmakers were given an open brief to make a video for a song from the new album – is by the band’s longtime collaborators and fellow countrymen Arni and Kinski.

“For the last twelve years meditation has been a way of life for us. Going within, releasing emotions, moving through negativity, judgment, discouragement, and the fears that are so often in the mind. Being able to move from the mind into the heart. This is what the music of Sigur Rós helps us to do and we use it as a tool in our meditation.
In meditation we are able to feel and move through our emotions allowing us to drop deeper within our hearts. From this depth of heart we are finding more acceptance, compassion, love, gratitude, passion, clarity, intuitive thinking and much much more. We hope this video will inspire you to do your part in elevating the consciousness of the planet in whatever way that may be.”
Peace and love, Arni & Kinski.


Well done, Sigur Rós. You have made it again.

***

Sunday, May 20, 2012

Yes, it is you.

You only know what I want you to
I know everything you don't want me to
Oh your mouth is poison, your mouth is wine
You think your dreams are the same as mine


Oh I don't love you but I always will
Oh I don't love you but I always will
Oh I don't love you but I always will
I always will

I wish you'd hold me when I turn my back
The less I give, the more I get back
Oh your hands can heal, your hands can bruise
I don't have a choice but I'd still choose you

Oh I don't love you but I always will
I always will.



('Poison and Wine' by The Civil Wars)